Senin, 15 Juni 2009

Baru pertama kali di Jakarta

Setiap orang pasti mempunyai pengalaman yang tidak pernah terlupakan dalam hidupnya entah itu yang menyenangkan, menyedihkan atau bahkan menggelikan, tetapi pengalaman yang dialami oleh paman atau om atau dalam bahasa jawanya pal lek saya sendiri ini sungguh mengelikan.

Awal kejadiannya OM saya berencana membangun rumah di Jakarta dengan menggunakan tenaga kerja dari kampung (jawa). Untuk mempermudah pengawasan, mempercepat pekerjaan diputuskan bahwa Om saya sepakat untuk mengambil tenaga kerja dari kampung untuk proyek pembangunan rumahnya.

Beberapa hari kemudian diambilah beberapa orang dari kampung untuk bekerja kepadanya mulai dari tukang sampe pembantu tukangnya. setelah semua persiapan selesai berselang beberapa hari tenaga kerja yang diinginkan sudah sampe dijakarta. Untuk penampungan sementara oleh OM saya mereka ditempatkan di rumah budhe saya.

Untuk mencapai lokasi pembagunan rumah yang berada di selatan Jakarta mereka harus naik angkotan umum sampe dua kali, pertama dari rumah budhe yang berada di kuningan naik ke pasar Minggu, dari pasar Minggu dilanjutkan naik kopaja ke arah Srengseng Sawah. Awal mula kejadian lucu ini ketika mereka naik angkotan umum yang ke arah srengseng sawah. Tidak perlu diceritakan bagaimana keadaan angkotan umum di Jakarta pada pagi hari, penuh dan berdesakan.

Kondisi didalam bis yang penuh membuat penumpang sulit untuk mencari tempat bangku yang kosong. Mata para penumpang angkotan saling lirik kiri dan kanan hanya untuk mendapatkan satu bangku kosong (kayak di DPR aj). Keadaan yang menimpa mereka menimpa juga rombongan pekerja yang baru pertama kali di jakarta. setelah sesaat kopaja dari pasar minggu berjalan rupanya keberuntungan menghampiri pak lek saya yang berada di bagian tengah bis. Dia mendapatkan satu bangku tersisa yang ditinggal penumpang yang akan turun. Sungguh sial penumpang yang turun berada di jajaran bungku deket kaca mobil. Pak Lek saya antara senang dan bingung, senang karena ada rejeki nomplok sudah capek dapat tempat duduk tetapi dia bingun gimana caranya untuk meminta orang yang ada duduk dibangku sebelahnya agar mau bergeser ke pinggir deket kaca.

Sesaat mencari akal dan agar bangku kosong tadi tidak keburu di tempatin orang lain dia berusaha mengolah perbendaharaan kata bahasa indonesianya. selang beberapa detik akhirnya dia ingat bahwa bahasa indonesia hanya merubah vocal O menjadi A. Dengan senyum dan berusaha ramah dia mengucapkan kata yang spontan dari mulutnya. Sadirana (Bahasa jawa Sadirono : Silahkan bergeser). Apa yang terjadi (kira-kira sendiri aja ya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar