Kamis, 28 Mei 2009

Menerjemahkan ide

Susah juga jadi seorang penulis....!. Ide sih banyak tapi bingung mau ngapain setelah ide itu muncul atau ide sih ada, coba nulis sih udah tapi baru beberapa kata udah nemuin jalan buntu.

Sepotong kalimat diatas menggambarkan sebagain besar kita yang baru belajar membuat tulisan. sering ide itu bermunculan di otak kita tetapi pas mau kita pindahin bisa jadi ide yang sudah ada bayangan kita hilang tak berbekas.

Menulis seperti kita juga mau bikin usaha, tidak salah juga kita bisa meniru tip dan trik yang sudah kita sering peroleh dari para pengusaha sukses atau para pakar marketing sukses.

Beberapa tips ringan yang mungkin bisa kita lakukan untuk belajar bisa menulis yang bisa kita tiru dari bentuk ruang lingkup profesi disekitar kita:

  1. Memulai seperti seorang Fotografer: Ide itu muncul seperti sebuah kejadian, seorang fotografer kemanapun pergi pasti membawa perlengkapan fotonya karena kejadian yang unikitu ada dimanapun tempat dan kapanpun waktunya. Bisa dibayangkan seorang fotografer tanpa membawa kamera. Begitu juga seorang penulis perlengkapan untuk menulis sebaiknya selalu ada kemanapun kita pergi.
  2. Pantang Menyerah seperti seorang pengusaha. Seorang yang sukses di dalam berbagai bidang usaha takut gagal ketika dia akan membangun usahanya. Mencoba dan terus mencoba dengan di diikuti proses evaluasi. Begitu juga kita mau menulis.
  3. Percaya Diri : Ide ada, tulisan sudah dibuat, jangan takut untuk mempublikasikan tulisan itu kepada siapa saja dan melalui apa saja. Banyak hal yang kita dapatkan dari tulisan yang sudah kita publikasikan ke semua orang. Jangan takut apapun reaksi orang ke kita.

Seneng... Perasaan yang bisa kita dapatkan ketika apa yang kita tulis di muat dan dibaca oleh orang lain.

Akhir kata Selamat Mencoba dan kita budayakan menuangkan ide kita..........

Audit ?. Siapa yang Audit

Berkembangannya kegiatan bisnis instansi atau dunia usaha menyebabkna banyak berkembangannya jenis usaha dan unit yang ada didalamnya, Membahas lebih detail kedalam internal organisasi dalam setiap bidang usaha kita akan menjumpai beberapa devisi yang mempunyai tugas dan kewajiban yang berbeda.

Salah satu divisi yang ada walau tidak semua dalam setiap organisasi / perusahaan adalah divisi atau departement audit. Sedikit menyinggung masalah Audit pernah denger cerita ringan yang biasa jadi bahan obrolan ketika ngumpul sama temen adalah orang yang kerja dibagian audit khususnya di pemerintahan katanya gampang nyari duitnya?. Bener atau ngga cerita itu sih saya juga belum tau karena saya ngga bisa ngasih bukti. Dari cerita itu katanya kalau lagi ngaudit ke luar kota atau ke perusahaan swasta, wow ........ fasilitas lengkap, uang dinas ada pokoknya enak tenan.

Menarik kesimpulan dari cerita warung kopi tersebut diatas dan dari pengalaman di kantor bahwa audit seolah-olah kayak jadi departemen tak tersentuh. Kayaknya orang di setiap departemen pada stress kalau udah orang audit udah menanyakan masalah kerjaan atau data. ada juga orang punya candaan kalau orang audit itu kerjaannya nyari kesalahan orang lain, abis kalau ngga gitu audit ngga punya kerjaan......!. Orang audit bisa dengan leluasa minta data ini, minta data itu yang mana data tersebut bisa jadi merupakan data yang bersifat screet pada orang lain diluar audit, tapi bagi orang audit data tersebut seolah menjadi data yang bersifat biasa.

Dari cerita tersebut kadang-kadang timbul pertanyaan sebenarnya departemen audit itu dibutuhkan atau ngga sih?, penting atau ngga sih?, Kalau penting sampai batas mana tanggung jawab dia, trus yang masih mengganjal yang Audit departemen audit itu siapa dong?, jangan sampai menjadi departmen tak tersentuh.